Showing posts with label tazkirah. Show all posts
Showing posts with label tazkirah. Show all posts

Tuesday, January 19, 2016

- fiver -




2011 - 2015.
Time flies away.
Remember back what I've been,
It's a long-hardship-tireless-day.

But it ain't some path I've dream of,
Some plans got lost & carried away,
Soon there are another plans to take care of,
Hopes my spirits never decay.

Because it's my story.
Dunya & akhirah,
It's mine to worry.
Not Ahmad, Siti or Peah.

Johariatan, 121215.






Monday, March 9, 2015

- cycle -




The Secret Way For Happy Life by Johariatan 

- Do not feed the negative vibes. 
Ultimate ignorance, 
until you turns invincible 
and don't have any feeling 
to care about that matter. -






Wednesday, October 8, 2014

Wednesday, July 9, 2014

-demotivating-




Several times I feel very demotivated
Caused by people
Whom never tired
To cursed people

And several times also
I pampered myself
To be patience
Because of people
Whom never fail

To motivates me to be strong.



Tuesday, June 3, 2014

-decision-




Di saat kita hendak membuat sebarang keputusan, 
pasti ada 'bisikan' yang bisa membuatkan kita terpesong dari niat asal. 

Ketika itulah iman diuji. 

- Johariatan -



Tuesday, May 20, 2014

-obstructions-




“People come, people go – they’ll drift in and out of your life, 
almost like characters in a favourite book. 

When you finally close the cover, 
the characters have told their story 
and you start up again with another book, 
complete with new characters and adventures. 

Then you find yourself 
focusing on the new ones, 
not the ones from the past.”


- Nicholas Sparks, The Rescue. -



Monday, May 6, 2013

-rise-




Wahai anakku,
Janganlah kamu bersedih di atas kekalahan ini, kerana ia adalah keringanan bebananmu di akhirat. Kekalahan sementara di dunia banyak air mata yang tumpah, banyak hati yang bersedih dan banyak jiwa yang menderita, namun semua ringihan, air mata dan kesedihan ada nilaiannya di akhirat seandainya kamu redha dengan ketentuanNya.

Wahai anakku,
Ingatlah akan firman Allah di dalam hadis Qudsi, mafhumnya " Sesiapa yang tidak redha dengan ketentuanku, dan tidak sabar di atas ujianku dan tidak bersyukur di atas nikmatKu, maka carilah Tuhan yang lain dariKu". Kerana itu wahai anakku, kita tidak punyai Tuhan yang lain selain Allah. Dia yang menentu kebaikan bagimu. Janganlah kerana sedikitnya ilmu yang ada pada kita, menyebabkan kita berdukacita di atas keputusan ini.

Wahai anakku,
Tidak salah kamu menangisi, bersedih dan kecewa kerana itu adalah fitrah manusia. Namun janganlah perasaan itu merosakkan hatimu sehingga syaitan berjaya merosakkan jiwamu. Ucaplah " telah ditaqdirkan oleh Allah, apa-apa yang dikehendakiNya, dan kami redha dengan ketentuan!u wahai Allah".

Alangkah hebatnya perjuangan ini, bilamana kita berhadapan dengannya secara langsung. Banyak pengorbanan yang kita lakukan, apa yang diharap agar Allah menerima pengorbanan tersebut. Wahai anakku,

Kejayaan sebenar kita bilamana Allah menerima segala pengorbanan masa, tenaga dan wang ringgit kita sehingga ia menjadi tebusan diri kita di hadapan Allah di akhirat.

Wahai anakku,
Perjalanan masih jauh, perjuangan masih panjang yang memerlukan tenagamu. Ambillah sedikit masa untuk rehat seketika, lalu bangunlah dengan penuh ketabahan bagi meneruskan perjuangan ini. Kamu tidak perlu menyalahkan diri di atas keputusan yang kamu tidak sukai, kerana itu helah syaitan untuk merosakkan jiwamu. Jangan kamu salahkan dirimu atau orang lain, kerana kita hanya pelaksana apa yang Allah perintahkan. Ingatlah firman Allah " bukanlah kewajipan kamu (ya Muhamad S.A.W ) memberi hidayah kepada manusia, Allahlah yang memberi hidayah kepada sesiapa yang Dia kehendaki".

Wahai anakku,
Teruskan kerja Islam ini sehingga Allah beri kemenangan sebenar dihadapanNya nanti atau kamu mengadapnya dalam keadaan kamu masih istiqamah di atas jalanNya.

Ya Allah, ampunilah dosaku dan dosa semua petugas yang telah bertungkus lumus berjuang bagi memenangkan perjuangan ini. Ya Allah, andainya ada sedikit belas kasihanmu pada kami, maaflah kesilapan kami, ampunilah dosa mereka yang membenci kami, dan. berilah petunjukmu kepada mereka dan kepada kami.

Salam perjuangan buat semua yang disayangi.....
Senyumlah kerana kamu masih ada Allah yang menyayangimu. - Dato' Tuan Ibrahim bin Tuan Man (Official)





Friday, February 1, 2013

-déjà vu-







Yes. It has happened before.

It hurts, probably.

But that is not the point.

The real deal is what will happen for the next moment.

Déjà vu.

Life is just a lot like a wheel.

When you're down, remember that there are always 
a way up after.

Just follow your instinct.

*smile*



Tuesday, August 7, 2012

-test & patience-







Hidup adalah untuk diuji. Ujian itu tidak akan ada hentinya. Selagi kita diuji, selagi itulah kita masih hidup. Jadi bersyukurlah… Ujian itulah jalan untuk kita mengenal Allah. Allah ‘memperkenalkan’ Dirinya di sebalik semua ujianNya. Pada ujian sakit, Allah kenalkan Dirinya yang Maha Penyembuh. Pada ujian miskin, Allah perkenalkan diriNya yang Maha Kaya. Pada ujian fitnah, Allah sedang memperkenalkan diriNya yang Maha Penyabar…

Tidak ada hari tanpa diuji, kerana atas hukum itulah kita hidup dan mati. Semoga dengan itu kenal kita kepada Allah makin tinggi… dan akhirnya, cinta kita kepadaNya pun semakin meningkat. Hakikatnya, apabila kita belum cinta, itu petanda kenal kita belum sempurna.

Ujian, membuktikan bahawa di sebalik kuasa diri yang sering kita fokuskan ini, ada kuasa Allah yang Maha Berkuasa di atas segala kuasa. Ke situlah perjalanan hati ini sewajarnya dipacu. Sentiasa bersangka baik bukan hanya bermakna yang baik-baik akan berlaku dalam hidup ini, tetapi hati kita diberi kekuatan untuk menghadapi ‘sesuatu yang tidak baik’ dengan hati yang baik.

Apabila berlaku sesuatu yang tidak diduga, tidak disangka, tidak dipinta… jangan kecewa, marah apalagi mencela. Tetapi tanyakanlah diri, apakah maksud baik Allah di sebalik semua itu. Dengarlah ‘bisikan’ tarbiah Allah di sebalik segala mehnah (ujian). Allah tidak akan menzalimi kita. Ujian itu penting, tetapi bagaimana kita menghadapinya jauh lebih penting.

Dalam hidup, peganglah prinsip ini untuk bahagia. Prinsip yang dipegang oleh Nabi Muhammad SAW dalam apa jua ujian yang melanda… “aku hamba Allah, Dia tidak akan mengecewakanku!”




-Ustaz Pahrol Ahmad Juoi-



Monday, July 23, 2012

-forgiveness-




Tonight's #storytime story is called,

'Forgiveness in Ramadan'.

The Prophet Muhammad ﷺ said:
Musa, the son of Imran once asked,
“Oh my Lord!
Who is the most honorable of Your servants?
And He replied,
the person who forgives even when he is in a position of power” (Baihaqi).

You know you’re right.
You know what I’m referring
to those times when you get into an argument(s)
with a family member,
friend,
boss,
employee,
coworker,
classmate,
teacher or whoever.
You know your facts are right
or that you’ve been wronged with an insulting remark,
sarcastic comment or rudeness.
And so,
you choose to hold a grudge.
After all,
you’ve got a right to.
Nobody should be treated this way.
Why should you forgive?
You’re not the one who started this.
You’re not the one who doesn't have the facts straight.

True.

You may be right.
You may be in that position of power mentioned in the Hadith above.

But forgiving others,
apart from positively affecting our health (less stress)
and our minds (one less negative thing to focus on),
is a necessary step to closeness to Allah SWT.
How can we move up the ladder of spiritual development
when we hold bitterness and anger towards another person?

While we may have been in the right,
is it worth sacrificing our energy on a grudge instead of on growth?

Is there not something strange
about asking for Allah’s forgiveness of our sins
while withholding our forgiveness from others who hurt us?
One of the distinguishing features of Ramadan is forgiveness.

The Prophet ﷺ explained in one Hadith
that Ramadan is a month whose beginning is Mercy,
whose middle is Forgiveness and whose end is freedom from the Hellfire.
This makes it a great time to ask Allah SWT for His Forgiveness.
It’s also a wonderful time to open our hearts
and cleanse them of grudges and bitterness by forgiving others.
The path to connection to Allah SWT is always paved with tests and difficulties.
Nobody gains spiritual upliftment without having to prove their mettle.
This process includes facing all kinds of hardships,
including injustice at the hands of others.
If we truly want Allah’s love, mercy and forgiveness,
we must remember that the hurts of that the hurts of this world are temporary,
and we are working towards that which is permanent.
Is it worth being bitter and stunting our growth?
Will it really benefit us?
How will our anger and bitterness change the person who has hurt us?
Let us use these days of Ramadan to open our hearts
to those who have wronged us & forgive them as we beg Allah to forgive us.

Ameen.

THE END :)



#storytime



Sunday, March 25, 2012

-existence-







Ada hari-hari saya sedih, lemah, jiwa saya akan bersuara:

"Siapalah yang benar-benar memahami aku?" Sebagai tanda terkilan dengan apa yang berlaku.

Namun hati saya yang terdalam sentiasa menjawab: "Allah memahami."

Dan itu sentiasa buat air mata saya membasahi pipi.

..........................................

Allah itu pemahamanNya menewaskan orang-orang yang kita cinta.




Monday, March 5, 2012

-syukran-












Ambo nok sambun kisoh dighi sedighi
Doh adek kakok kapon pakak nok dengaa lagih
Ambo hormak sanjon segalo kaseh segalo budi
Susoh hok ambo tanggun adek kakok ambek peghati

Ooooooo..
Ambo ghaso bebesaa hati
Ooooooo..
Terimo kaseh setinggi-tinggi

Maso kecik ambo beso makey nasik sajo-sajo
Kalu ado sekeghak ikey pon keno bagi duo
Dapo como ado gaghe jaghe benaa ado gulo
Bajopoh male-male pakaa minun air telago

Bangun pagi-pagi sauk baju pakaa sluaa
Mek ambo ghebuh ubi bukuh buwi buak bekaa
Dio pesey haghi-haghi Leng ngaji lah pandaa-pandaa
Kalu seksok pah tinggi oghe kato bulih jadi pegawa

Ooooooo..
Ambo gi skoloh beghungga-ghungga
Ooo…oooo..
Ambo nok ngaji wi pandaa-pandaa

Ado satu ketiko..
Cekgu mitok sepuloh ghiyaa
Dio kato skoloh kito nok gi melawak sambii belajaa
Hmm..Tak dok apo doh la cekgu sayo tok leh bayaa
Oghe lain gi blako ambo soghe jah tinggaa

Hok ambo peghik seghoti keno gi skoloh alik petey
cekgu kato wajik maghi ghumoh kunin ado latihey
Ambo lah banyok sekali keno hungga kelilin padey
Keghano ambo tok leh nok beli sluaa pendek kasuk sukey

Ooooooo..
Malunyo weihh ambo keno pajey
Ooooooo..
Ni la baghu ambo ghoyak kok ghe

Teghimo kaseh la cekgu-cekgu
Keghano sudi ajaa sayo
Daghi daghejoh satu hingga jadi maknusio
Mitok halaa segalo ilmu hok cekgu buwi selamo maso
Wi tapok kaki gughu ambo tundok mitok redho

Ambo masuk yunibesiti tahon lapey puloh
Budok kapon nok gi ngaji
Tok tahu la mano jatuh
Adek-adek kecik lagih ghato segenak kok dale baghuh
Iktekak dale hati ambo nok ngaji sunggoh-sunggoh

Ingak malu kok ghe waghih waghah dok pakak kato
Tok soh laa dudok tebey kalu tidok bako kayoAtaa skoloh anok jate wat ngabih ko hagheto
Tidok kato nok pakak ghatey tulon baatu samah duo

Ooooooo..
Tak dok nyo dighi ambo
Ooooooo..
Demo tok sir kelih walau sebeloh mato

Mek dengaa ayoh masuk jadi peneroko baghu
Daley bukik nok taney getoh di Kesedaa Lebir SatuPeghe dengaa ghimaa gajoh makey tok makey tak dok sapo tahu
Beginih laa oghe susoh nok tanggon anok ngaji di Yuu

Keghano keado'ey begitu ayoh ambek keputusey
Wahai anok-anokku kito pecoh lah tigo jale
Mu Halen anok nombo satu dok Kualo Lupo ngaji la soghe
Adek-adek tinggaa kapon dulu pakak dudok la limo oghe

Ooooooo..
Selamak tinggaa selamak jale
Ooo…oooo..
Adek hok boosu jeghik sokmo male-male

Alkisoh la ambo pulok tengoh dok mengaji di Yu Malaya
Buku rujukey pun ambo tak dok pakaa haghak ko salen nota
Beghaso malu jugok masok majelih hok besaa-besaa
Baju ambo mughoh telajok duo belah ghiyaa jah selaa

Haghi konbokesyen
Haghi utok ayoh bondo
Penak jeghih seghibu musen
Haghak mek ayoh beghaso banggo
Tahniah daghi sain-sain ambo teghimo banyok bungo
Ambo lah oghe panggey Halen
Anok kapon sesok hok buley bejayo

Ooooooo..
Akhirnyo ambo buleh sarjano
Ooooooo..
Syukoo pado Allah Maho Kuaso



Halim Yazid - Bangkit Asal







Monday, January 23, 2012

-priority-







Tonight's #storytime story is called, 'Love & Loyalty'.

You might be married to the worst man ever, like Aisyah was married to Pharaoh.

But it didn’t change her and her loyalty and love to Allah SWT.

You might be married to the best of men, like a Prophet of Allah SWT.

And still not be saved from the punishment - like the wife of Prophet Lut (AS).

You might be not married to any man, like Maryam (alaiha salam).

And Allah SWT can make your rank higher than any women on the Earth. Know your priorities.

Love and trust is with Allah SWT first.

The only relationship where you’ll never have your heart broken is the relationship between you and Allah SWT. ♥

The End : )




Sunday, January 1, 2012

-resolution-







Tuhan itu sangat dekat.
Masih sempat untuk bertaubat.
Sebelum hati menjadi keras.
Carilah diri sebelum berhenti bernafas.



Tuesday, September 27, 2011

-retreat-






This is peace.
The one you can't ever imagine,
if your heart's not closed enough to Him.

*Subhanallah*





Friday, September 9, 2011

-carving-






Batu berlaga air.
"Bertindaklah sebelum hati manusia hitam dan beku.

Sebelum lebih keras dari batu.
Yang hanya Neraka mampu meleburkannya."






Monday, August 22, 2011

-silence-







...Cintai dalam diam jika kau belum siap menjadi miliknya yang sah…




Friday, July 15, 2011

-missing-




...Mega tak selalunya merah,
Mendung tak selalunya gelap,
Sabarlah! Hindarkan marah,
Akhir usaha manisnya berharap.

Menanti dikala terbitnya hari,
Menunggu dikala munculnya malam,
Sakit yang pedih mencengkam hati,
Percayalah pada Tuhan yang kalam

Titis embun bagai penyeri,
Hembus angin bagai terhenti,
Berusahalah! Baikkan diri,
Hingga tiba dia menanti...






Sunday, June 26, 2011

-giving not for receiving-




JADILAH SEORANG RAJA!

“Berapa lama awak dalam bidang ini?” Begitu kadang-kadang anda ditanyakan orang. Kemudian yang bertanya akan membandingkan pencapaian itu dengan pencapaian si polan itu, si polan ini. Silap-silap anda akan terasa kerdil bila si penanya akan meletakan ‘orang besar’ dalam bidang tersebut sebagai penanda aras kecapaian. Aduh, terasa anda masih jauh. Anda masih merangkak ketika orang lain telah berjalan, berlari dan melompat. Anda kalah, kalau jika sebaik sahaja perbualan itu tamat, anda mula merasakan, oh, malangnya nasib ku!

“Berapa ramai anak di universiti?” Sebaik sahaja anda menjawabnya, si penanya akan bertanya, “dalam bidang apa? Doktor, jurutera, farmasi atau arkitek?” Jika anak anda berada di bidang-bidang lain, yang tidak dianggap ‘prestij’, si penanya akan menerangkan betapa ‘rendahnya’ nilai profesion anak anda itu jika bidang pengajiannya ‘biasa-biasa’ sahaja. Jika tidak berhati-hati, rasa rendah hati akan tersuntik tanpa disedari. Alangkah bertuahnya dia, alangkah ruginya aku…

Itu belum lagi anda bertemu dengan ‘pak lawak’ yang merasa besar hanya kerana punya kenalan di kalangan ‘orang-orang besar’. Anda seperti hendak ketawa bila dia bercerita tentang Tan Sri itu, Puan Sri ini, Datuk ini, Datin itu, yang kononnya sangat akrab dengannya. Padahal dia hakikatnya hanya ‘pecacai’ sahaja kepada orang besar yang diuar-uarkannya itu. Keinginannya menjadi besar menyebabkan dia ‘kecil’ bila hilang harga diri dan suara hati sendiri ketika bergaul dengan ‘orang besar’nya. Angguk-angguk, tunduk-tunduk… Ya, Tok! Yes, Tan Sri!

Perkara-perkara yang saya sebutkan di atas, mengingatkan saya kepada perbualan bersama Mat (bukan nama sebenar) seorang sahabat yang sangat akrab dengan saya.

“Bagaimana rasanya bila tidak dihargai?” tanya Mat. Nadanya sedih.

“Mengapa?” tanya saya simpati.

“Mereka masih melihat jawatan, harta dan nama.”

“Kau tidak perlu penghargaan mereka yang seperti itu.”

Dia merenung jauh.

“Kalau kita dihargai kerana berpangkat, berharta dan bernama, penghargaan itu hakikatnya bukan untuk kita tetapi untuk pangkat, harta dan nama.”

“Tetapi aku sedih… Setelah sekian banyak yang aku lakukan.”

“Jangan mengharap terima kasih Mat. Nanti kita sakit jiwa. Hakikatnya, majoriti manusia yang hidup di dunia ini tidak pandai berterima kasih. Jika kepada Allah pun hanya sedikit manusia yang mampu bersyukur, inikan pula kepada sesama manusia,” kata saya seakan memujuk.

“Aku sedih, itu sahaja…”

“Lupakan Mat. Aku kenal kau sejak dulu. Kau tak perlukan penghargaan kerana kau sememangnya berharga. Kata bijak pandai, jangan sedih kalau kita tidak dihargai tetapi sedihlah jika benar-benar kita tidak berharga.”

Mat mendongakkan mukanya yang sejak tadi tunduk.

“Apa maksud kau?”

Melihat Mat mula tenang saya mula bercerita. Ada dua cerita, secara santai saya mula bercerita: Pertama, cerita tentang Nasiruddin seorang Sufi yang ketika dia masuk ke sebuah kampung, seluruh kampung mengalu-alukan kedatangannya.

“Selamat datang ulama, selamat datang orang alim… Ajarkan kami, ajarkan kami,” sorak penduduk kampung.

“Mengapa kamu semua merasakan aku orang alim?”

“Kerana serban besar yang tuan pakai.”

Nasiruddin pun membuka serbannya dan dipakaikan ke kepala keldai yang ditunggangnya.

“Nah, sekarang kau semua belajar daripada keldai ku. Dia alim sekarang, kerana telah memakai serban besar!”

Mat ketawa mendengar cerita saya.

“Kau tahu, Nasirudin tetap Nasiruddin walaupun tanpa serbannya. Yang lebih penting ialah diri kita bukan pakaian, gelaran dan harta yang kita miliki. Dan kita sebenarnya tidak perlu penghargaan orang asalkan kita pandai menghargai diri kita sendiri.”

“Betul ke?”

“Ini hasil kajian pakar psikologi Mat… Menurut mereka penilaian kita terhadap diri sendiri jauh lebih penting berbanding penilaian orang lain terhadap kita.”

“Jadi, jangan sampai penilaian orang lain mempengaruhi penilaian kita terhadap diri kita sendiri, begitu maksud kau?”

“Kau lebih tahu Mat. Lagipun apa gunanya penghargaan daripada orang yang sebegitu. Hidup terlalu singkat untuk kita berikan masa bagi mereka yang semacam itu.”

Cerita kedua: Seorang bijak pandai telah dijemput ke satu majlis jamuan makan. Dengan pakaian yang sangat sederhana bijak pandai itu pun pergi ke sana. Malangnya, setibanya di majlis itu dia tidak dijemput langsung untuk makan. Tuan rumah mengutamakan orang-orang kenamaan yang lain. Si bijak pandai pulang semula ke rumahnya lalu menukar pakaian yang mahal dan gemerlapan dan pergi semula ke majlis tersebut. Kali ini dia disambut dengan mesra dan dihidangkan makanan yang lazat. Si bijak pandai lantas menuangkan lauk-pauk dan makanan yang terhidang ke pakaiannya. “Mengapa?” tanya orang ramai. Si bijak pandai menjawab, “tuan rumah hendak menjamu pakaian ku bukan diri ku!”

Sekali lagi Mat ketawa.

“Mat, orang pandai kenal orang bodoh. Tapi orang bodoh tak kenal orang pandai. Life is to ‘complete’ not to ‘compete’ – hidup bukan satu pertandingan, tetapi satu perkongsian. Tinggalkan mereka yang asyik nak bertanding dengan harta, nama dan jawatan. Kita teruskan dengan perkongsian ilmu, iman dan kebajikan. Yang penting ikhlas. Memberi bukan untuk menerima. Berjuang bukan kerana nama!”

Kemudian, giliran Mat pula bercerita – betapa ramai anak yang begitu ‘admire’ dengan Ibu Mithali yang dinobatkan oleh pihak itu dan ini sehingga mengecilkan jasa ibu sendiri. Kononnya, ibu Mithali itulah yang lebih baik daripada ibu mereka sendiri. Dan betapa ramai pula ibu yang impikan anak seperti mereka yang dianugerahkan ‘Pelajar Cemerlang’, ‘Remaja Dedikasi’ dan sebagainya… hingga merasakan anak sendiri kurang ‘harga’nya.

“Apa pesan awak untuk anak dan ibu seperti itu?”

“Aku katakan, ibu kita mungkin bukan ibu yang terbaik… tetapi sebagai anaknya, kita mesti nampak di mana kebaikan ibu kita sendiri.”

“Tepat Mat. Begitulah juga dengan diri sendiri. Kita ini bukan orang terbaik, tetapi kita mesti menghargai ‘kelebihan’ atau ‘kebaikan’ kita sendiri. Kita akan memajukan diri kita ke tahap maksimum selaras dengan kelebihan itu.”

“Ertinya kita bertanding dengan diri sendiri?”

“Betul tu, bertanding dengan diri sendiri, berkongsi dengan orang yang lain.”

Oh, alangkah tenangnya diri jika berpegang kepada prinsip sendiri daripada terpaksa hidup bermuka-muka dengan topeng yang dipakai oleh kepura-puraan manusia… hanya untuk mencari nama, harta dan jawatan. Saya teringat cerita seorang Raja bertanya kepada seorang petani miskin, “siapa kamu?”

“Saya raja,” jawab petani.

“Raja?”

“Ya, raja pada diri saya sendiri!”.


APABILA DITIKAM DARI BELAKANG…

-gentarasa-







"..Jangan sedih kalau kita tidak dihargai,
tetapi sedihlah jika benar-benar kita tidak berharga..”



Friday, May 27, 2011

-value-




...Manusia...






...Yang paling penting ialah...

"HATI!"